Pertanian merupakan salah satu aspek yang memiliki peran utama dalam kesejahteraan masyarakat, khusunya masyarakat Indonesia sendiri. Sektor pertanian memberi sumbangan yang cukup besar untuk keberlangsungan kehidupan masyarakat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi sehari-hari. Berkaitan dengan pertambahan penduduk Indonesia yang semakin pesat, mendorong berbagai sektor pertanian untuk bisa meningkatkan produksi pertaniannya. Pertambahn penduduk berrkorelasi positi dengan besarnya kebutuhan konsumsi, yang jelas berkaitan dengan kebutuhan pangan masing-masing individunya aga tetap tercipta kesejahteraan masyarakat dalam aspek ketersediaan pangn untuk masyarakat. Jika Indonesia tidak mampu memproduksi tanaman, sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya, maka yang terjadi adalah impor pangan secara besar-besaran (seperti saat ini) yang menyebabkan Indonesia semakin terpuruk. Untuk itu perlu adanya berbagai upaya peningkatan produksi pertanian (khususnya bagian tanaman) baik dari segi mutu maupun jumlah produk yang mampu diproduksi.

            Salah satu alternatif yang bisa dimanfaatkan adalah dengan menerapkan berbagai teknologi yang bisa membantu memudahkan proses produksi tanaman-tanaman pertanian guna mencapai hasil panen yang tinggi dan berkualitas. Teknologi sendiri bukan hanya mengacu pada bantuk alat yang digunakan, teknoogi juga mengacu pada suatu sistem atau pola yang bisa diterapkan dalam suatu wilayah dan oleh masayarakat setempat. Teknologi merupakan suatu hasil pemikiran manusia berupa gagasan yang tertuang dalam sebuah tata cara atau pola dalam melakukan kegiatandam bisa berupa alat yang bisa langsung dimanfaatkan. Teknologi secara konseptual memiliki tiga makna prinsip, yaitu, (1) teknologi (secara teknis) sebagai agrerat dari semua artifak-artifak manusia yang dipergunakan, mulai dari perkakas sampai dengan sistem teknologis kompleks yang berskala besar; (2) teknologi sebagai agregat dari seluruh aktivitas teknis, penemuan yang bersifat invention (penciptaan) dan discovery (penemuan), riset dan pengembangan, dan tahapan-tahapan dalam penciptaan teknologis yang berhasil, serta penyebarannya ke masyarakat secara luas; dan (3) teknologi sebagai agregat dari keseluruhan pengetahuan teknis, mulai dari teknik yang sangat khusus dan praktik-praktiknya sampai pada sistem teknologis-saintifik teoretis termasuk pengetahuan mengenai perekayasaan (engineering knowlodge) dan know-how-nya. Teknologi yang baik dan bisa termanfaatkan secara optimal, sesuai tujuan utama dari terciptanya suatu teknologi yaitu untuk memudahkan aktivitas manusia dalam melakukan suatu usaha, memiliki beberapa kriteria yaitu bernilai ekonomis, ramah lingkungan, mudah diterapkan, mudah digunakan, diterima masyarakat umum, dan mudah didapatkan. Teknologi bernilai ekonomis, tujuan utama teknologi dengan kriteria ini agar teknologi tersebut bisa diaplikasikan oleh berbagai kalangan terutama kalangan petani menengah ke bawah masih bisa memanfaatkan teknologi tersebut, terutama dalam hal biaya yang harus dikeluarkan untuk memanfaatkan teknologi tersebut. Teknologi bersifat ramah lingkungan dengan tujuan untuk menjaga stabilitas lingkungan, terutama di sekitar komoditi yang dibudidayakan dan pertanian masih bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Teknologi harus mudah diterapkan agar bisa dijangkau oleh petani dari SDM yang rendah sampai SDM yang tinggi namun teknologi tersebut masih efektif jika diterapkan, sehingga teknologi tersebut tidak hanya tertuju pada kalangan petani tertentu. Teknologi harus mudah didapatkan agar bisa dianfaatkan oleh seluruh masyarakat, jika sulit didapatkan (jika alat) maka teknologi tersebut akan sia-sia, tidak bersifat general (umum), dan jika teknologi tresebut tidak bisa diterima masyarakat berarti teknologi tersebut kurang baik untuk diterapkan pada wilayah tersebut dengan kondisi masyarakat di wilayah tersebut, jika tidak diterima maka teknologi terrsebut dorasa merugikan jika tetap digunakan.

Tabel 1. Peningkatan produktivitas petani PTT dibandingkan petani non PTT tahun 2004

Kabupaten

Petani PTT

Petani non PTT

Peningkatan produktivitas petani PTT

Produktivitas

Setara Kapas

Produktivitas

Setara kapas

Kapas

Palaawija

Kapas

Palawija

Kg/ha

Kg/ha

%

Bantaeng

808

824

1.240

457

645

794

56,2

Bulukumba

742

381

942

414

306

574

64,1

Sinjai

723

306

883

-

1.346

705

25,2

Lombik Barat

1.107

434

1.499

-

1.025

927

61,7

 

Tabel 2. Peningkatan produktivitas petani PTT dibandingkan petani non PTT tahun 2004

Kabupaten

Petani PTT

Petani non PTT

Produktivitas

Pendapatan atas biaya total

Produktivitas

Pendapatan atas biaya total

Kapas

Palaawi ja

Kapas

Palawi ja

Kg/ha

Rp

Kg/ha

Rp

Bantaeng

1.483

911

2.079.835

826

562

1.120.451

Bulukumba

1.638

538

2.226.508

794

341

310.325

Sinjai

1.263

563

1.370.511

-

1077

44.860

Tabel 3. Peningkatan adopsi teknologi dan produktivitas kapas PTT pada tahun 2004 dan 2005

Kabupaten

Tingkat adopsi teknologi (%)

Produktivitas (Kg/ha)

2004

2005

2004

2005

Bantaeng

59,8

75,9

1.240

1.926

Bulukumba

61,7

70,8

942

1.661

Sinjai

67,3

75,2

883

1.506

Sumber: Hasnam, dkk., 2011; dalam jurnalnya Peran Teknologi dan Kelembagaan dalam Pengembangan Kapas dan Rami (untuk tabel 1-tabel 3)

 

Tabel 4. Contoh berbagai produk hasil teknologi berupa varietas-varietas padi

Varietas

Umur (hari)

Produktivitas (ton/ha)

keunggulan

Inpari 6 Jete

118

7-12

Potensi hasil tinggi

Inpari 10

112

4-7

Toleran kekeringan

Inpari 12, inpari 13,

Inpari 1

99

108

6-8

7-10

Umur genjah sampai sangat genjah

Inpara 4

Inpara 5

115

135

5-7

5-8

Tolerlan rendaman

Kapuas, Inpara 1

Inpara 2, Inpara 3

131

128

5-6

Toleran keracuna besi dan Al

Inpari 7, inpari 13

99

6-8

Toleran wereng coklat

Inpari 8, inpari 9 Elo

125

6-10

Toleran penyakit tungro

Inpari 11

105

6-9

Toleran hawar daun bakteri

Sumber: Makarim, 2011

Beberapa contoh teknologi yang bisa mendukung produksi tanaman antara lain bioteknologi dan pertanian dengan metode PTT.  Bioteknologi merupakan teknologi yang berfokus pada penggunaan biokimia, mikrobiologi, dan rekayasa genetika secara terpadu, untuk menghasilkan barang atau lainnya bagi kepentingan manusia. Biokimia mempelajari struktur kimiawi organisme. Rekayasa genetika adalah aplikasi genetik dengan mentransplantasi gen dari satu organisme ke organisme lain.  Ciri utama bioteknologi:

  1. Adanya Benda biologi berupa mikroorganisme, tumbuhan atau hewan
  2. Adanya pendayagunaan secara teknologi dan industri
  3. Produk yang dihasilkan adalah hasil ekstraksi dan pemurnian

Contoh dari bioteknologi adalah kultur jaringan. Kultur jaringan (sel) adalah mengkultur/membiakkan jaringan (sel) untuk memperoleh individu baru. Manfaat atau keuntungan kultur jaringan

  1. Bibit (hasil) yang didapat berjumlah banyak dan dalam waktu yau~g singkat
  2. Sifat identik dengan induk
  3. Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki
  4. Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa.

Kutur jaringan sangat menmbantu dalam melakukan produksi tanaman khususnya dalam menghasilkan biakan-biakan tanaman yang sukar dikembangbiakan dengan cara biasa. Dalam sekali melakukan pembiakan tanaman dengan kultur jaringan yang hanya menggunakan bagian kecil tanaman, mampu menghasilkan tanaman dalam jumlah yang banyak, sehingga sangat efektif untuk memproduksi tanaman dalam jumlah banyak dan bermutu unggul, tahan terhadap serangan OPT.

Sedangkan untuk pertanian dengan konsep pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu yang disingkat dengan  PTT pada dasarnya suatu metode dalam peningkatan  produksi tanaman melalui pengelolaan tanaman dan sumber daya secara  terintegrasi dengan meramu teknologi yang memiliki efek sinergis sehingga  pendekatan PTT mampu meningkatkan produktivtas tanaman secara  berkelanjutan (sustainable). Ciri-ciri dari konsep pertanian Pengelolaan Tanaman Terpadu seperti:

  1. Keterpaduan/ Integrasi  Keterpaduan yang dimaksud dalam PTT, tidak hanya terbatas pada  keterpaduan tanaman dan sumber daya input, namun melibatkan keterpaduan  yang luas, meliputi keterpaduan institusi (pemerintah ataupun swasta),  sumberdaya alam, ilmu pengetahuan dan  Teknologi, serta keterpaduananalisis.
  2. Sinergisme. Efek sinergisme  adalah efek yang saling mendukung/menguatkan antara komponen teknologi yang satu dengan komponen teknologi lainnya.
  3. Partisipatif. Pendekatan partisipatif merupakan pendekatan  dengan cara melibatkan  semua pihak yang berkepentingan mulai dari petani, swasta,  penyuluh serta  instansi terkait mulai dari identifikasi, pelaksanaan  sampai kepada evaluasi  kegiatan
  4. Dinamis. Kondisi lingkungan pengembangan jagung cukup beragam baik di  lahan kering ataupun di lahan sawah terutama sawah tadah hujan,  mengindikasikan bahwa penentuan komponen teknologi utama yang akan  digunakan dalam pendekatan PTT harus dinamis, seiring dengan variasi  lingkungan tumbuh tanaman, termaksud sosial-ekonomi dan budaya  masyarakat tani sendiri dan sumberdaya terpadu.

 Teknologi yang tepat dan sesuai akan membantu meningkatkan produksi tanaman secara tidak langsung. Teknologi yang digunakan saat kegiatan produksi, yang juga meliputi budidaya akan membantu mempermudah berlangsung produksi. Sebagaimana beberapa contoh teknologi yang telah disebutkan, bahwa teknologi-teknologi tersebut diciptakan untuk mempermudah cara-cara dalam berbudidaya tanaman, menciptakan produk-produk yang berkualitas bernilai jual tinggi, menciptakan tanaman dengan hasil panen yang tinggi, dengan adanya konsep PTT tidak hanya baik untuk produksi tanaman tapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan petani nya. Teknologi yang tepat berkorelasi positif dengan peningkatan produksi tanaman dibandingkan dengan kegiatan produksi yang biasa-biasa saja tanpa adanya teknologi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Hasman,  dkk yang menunjukkan perbandingan produktivitas kapas dan palawija antara komoditi yang menerapkan konsep PTT (sebagai salah satu contoh teknologi) dan konsep non PTT (konvensional, tanpa teknologi), diketahui bahwa produksi kapas dan palawija yang dihasilkan melalui konsep PTT lebih banyak dibandingkan hasil produk dari konsep non PTT, keunggulan hasil produk dengan konsep PTT ini terbukti di seluruh wilayah yang digunakan sebagai sampel dan terbukti juga pada tahun yang berbeda. Pada tahun 2005 pun mengalami peningkatan produksi untuk konsep PTT, hal ini berkaitan bahwa semakin lama teknologi semakin maju, hal ini menunjukkan pula bahwa konsep PTT sangat efektif diterapkan untuk melakukan produksi tanaman, sehingga PTT ini merupakan teknologi yang tepa dan sesuai untuk diterapkan sehingga bisa mendukung peningkatan produksi tanaman. Pada tabel 3 pun, ditunjukkan tingkat adopsi teknologi, persentase tingkat adopsi teknologi yang semakin tinggi juga menunjukaan produktivitas yang meningat pula. Sebagai contoh, pada tahun 2004, pada Kabupaten Bantaeng tingkat adopsi teknologinya hanya 59,8% dengan produktivitas 1.240 kg/ha, sedangkan pada tahun 2005, pada kabupaten tersebut mengalami peningkatan tingkat adopsi teknologi menjadi 75,9 %, ternyata produktivitasnya pun meningkat menjadi 1.926 kg/ha. Hal ini menjadi bukti lebih lanjut bahwa teknologi sangat mendukung peningkatan produktivitas tanaman. Pada tael 4, menunjukaan berbagai varietas padi yang merupakan hasil berbagai teknologi dalam rangka menciptakan varietas baru yang lebih baik. Setiap varietas memiliki keunggulan atau karakter yang berbeda-beda. Ini menunjukkan bahwa beragam teknologi yang diterapkan menhasilkan produk yang beragam pula, tujuan utama dari suatu teknologi itu untuk menciptakan varietas unggul yang memiliki produuktivitas tinggi dan tahan terhadap serangan hama serta penyakit. Sebagai bukti bahwa teknologi digunakan untuk menciptakan sesuatu  yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdurrahman, Dede. 20008.  Biologi Kelompok Pertanian. Jakarta: Grafindo Media Pratama

Hasnam, et al. 2011. Peran Teknologi dan Kelembagaan dalam Pengembangan Kapas dan Rami. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta.

Makarim, Abdul Karim. 2011. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Perspektif dan Sumbangannya terhadap Produksi dan Ketahanan Pangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

Pramono, Joko., et al. 2005. Upaya Peningkatan Produktivitas Padi Sawah melalui Pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu. Agrosains 7: 1-6.

Sumarno. 2010. Pemanfaatan Teknologi Genetika untuk Peningkatan Produksi Kedelai. Pengembangan Inovasi Pertanian 3: 247-259

 

 

 

 

About these ads

Tentang l4r4sbl0g

seorang wanita yag dilahirkan pada tahun 1992, yang kini tumbuh semakin dewasa. Belajar dan mencoba menjadi wanita yang berkepribadian unggul, bermanfaat dalam kebaikan dan di jalan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s